KANDANGWESI

Oleh: Wanto , November 2021.




Kandangwesi merupakan salah satu wilayah kuna di Pakidulan Tatar Sunda. Menurut peta Topographisce Kaart Van de Residentie Preanger Regent Schappen (1857), Kandangwesi adalah distrik di wilayah Regentschap Soekapoera dengan hoofdplaats di Bungbulang. Wilayahnya kurang lebih meliputi Kecamatan Cikelet, Pakenjeng, Pamulihan, Bungbulang, Cisewu, Caringin dan Mekarmukti Kabupaten Garut sekarang.
Distrik ini berbatasan dengan Distrik Tjidammar, Regentschap Tjiandjoer di barat dan Distrik Nagara di timur. Sisi utara berbatasan dengan distrik Bandjaran, Tjipeudjeu, dan Timbanganten, Regentschap Bandung. Sementara di selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Saya tidak tahu makna sebenarnya dari Kandangwesi. Apakah kerangkeng besi atau tempat yang memiliki banyak besi? Karena di sepanjang pesisir selatan endapan pasir besi (mineral magnetite atau titano-magnetite) cukup melimpah. Carita Pantun menyebut wilayah Kandangwesi sebagai tempat jatuhnya kerangkeng yang dilemparkan oleh Ciung Wanara.
Naskah Fragmen Carita Parahyangan (1488 M) mencatat Kandangwesi berpusat di Papandayan, dipimpin oleh Bagawat Resi Karangan yang dinobatkan sebagai Preburaja di Kandangwesi. Batas sebelah barat adalah tepi Cikandangwesi (S. Cikandang?), dan sebelah utara adalah Wates. Wilayah ini merupakan salah satu dari dua belas wilayah yang wajib menyerahkan pamwatan ke Pakuan. Jenis pamwatan-nya adalah:
\ti Kandangwesi pamwat siya ka pakwa[n], pedes telu barut, kapas sapuluh carangka, uyah salawé kelék, hayam salawé\
Sampai dengan awal 1800an wilayah Pajampangan di barat Kandangwesi masih disebut-sebut sebagai penghasil kapas untuk wilayah Sunda.
Bujangga Manik pernah menyebut nama Pagerwesi dengan tangeranya Gunung Agung ketika melihat ke arah selatan dari Gunung Papandayan. Apakah yang dimaksud Kandangwesi? Karena ada nama Pagerwesi lain yang tercatat dalam naskah Carita Parahyangan, terletak di antara Bogor dan Depok sekarang.
Sumber VOC pada tahun 1686 mencatat Negorij Kandangwesi sebagai bagian dari wilayah Parakanmuncang. Negorij ini dihuni oleh sepuluh keluarga yang berprofesi sebagai pembuat zat pewarna, lilin dan katun dipimpin oleh Wangsaprana. Sementara itu Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan dari Sumedang pernah mengajukan diri kepada VOC pada 1680-an untuk diangkat menjadi Wedana Bupati yang membawahi 44 Dalem, salah satunya Dalem Wanantaka di Kandangwesi.
Peta Francois Valentyn (1724) menempatkan pusat Kandangwesi di muara S. Cikandang (?), sementara Thomas Stamford Raffles dalam A Map of Java (1817) menempatkannya di sekitar Bungbulang sekarang (?), dan Franz Wilhelm Junghuhn dalam Kaart Van Het Eiland Java (1855) menempatkannya di hulu S. Cikandang, di sisi tenggara Gunung Papandayan.
Setelah Kabupaten Parakanmuncang dibubarkan pada masa pemerintahan Raflles (1811-1816), Kandangwesi menjadi wilayah Kabupaten Soekapoera sebelum akhirnya digabungkan dengan Kabupaten Limbangan (Garut) tahun 1901. Berbagai perubahan administrasi dan reorganisasi pemerintahan sampai dengan 1921 akhirnya merubah nama Kandangwesi menjadi Bungbulang.
Referensi:
Aditia Gunawan. 2019. Textiles in Old-Sundanese Texts.
M. Radin Fernando. 2013. Sebuah daftar masa lalu terkait desa, kepala desa, rumah tangga, upeti dan penghasilan di Priangan, Jawa Barat, 1686.
Mumuh Muhsin Z. 2008. Sumedang Pada Masa Pengaruh Kesultanan Mataram (1601-1706).
Thomas Stamford Raffles. 1817. The History of Java, diterjemahkan oleh Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, Idda Qoryati Mahbubah.
Yusandi. 2010. Fragmen Carita Parahyangan, Naskah Sunda Kuno dan Kisah Pendirian Ibukota Pakuan.
Gambar:
Jacques Nicolas. 1764. Carte de l'isle de Java.